Tetap Tabah, Meski Sering Jadi Bahan Tertawaan
Bagaimana Penyandang Cacat Berinteraksi dengan Masyarakat
Memiliki kekurangan fisik, merupakan hal yang sangat tidak diinginkan oleh semua orang. Tapi takdir Tuhan tidak bisa. Demikianlah yang dirasakan oleh saudara-saudara kita para menyandang cacat. Bagaimana kehidupan mereka sehari-hari, dalam berinteraksi dengan masyarakat? Berikut pengakuan Dayang, salah seorang penyandang cacat fisik, kepada wartawan Radar Tarakan.
Yoko Handani Kapuragah
Dayang, wanita muda yang mengalami kelainan pertumbuhan fisik pada tulang lamban alias ada benjolan dipunggungnya ini, mengaku sering dikucilkan oleh teman-temannya. Bahkan jika dirinya berjalan di tengah-tengah keramaian, hampir semua mata tertuju padanya. Yang lebih memprihatinkan lagi, anak-anak pun sering menertawai dan mengikuti cara berjalan.
Nasib Dayang memang tidak sebahagia kita, semenjak kecil dia sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya, untuk selama-lamannya. Suatu hal yang pantas, jika dirinya mendapat bantuan peralatan menjahit oleh Kantor Sosial Kota Tarakan. "Saya sering dihina seperti itu, tapi saya hanya sabar saja, karena memang takdirnya sudah begini," ungkap wanita yang sudah pernah mengikuti kursus menjahit di Bandung Jawa Barat ini.
"Sudah dari kecil saya hidup mandiri dan saya akan terus berjuang hidup untuk masa depanku. Yang jelas aku tidak ingin dianggap cacat," kata wanita yang datang bersama orang tua asuh-nya Ani Yusmiaty ke Kantor Sosial ini.
Dayang yang saat itu mengenakan celana pendek dan baju kotak-kotak itu, mengaku dirinya tidak ingin dianggap cacat oleh orang-orang normal. "Walaupun aku cacat, aku masih bisa melakukan aktifitas layaknya orang normal," ungkapnya.
Sementara itu, Kantor Sosial Tarakan, kemarin membagikan beberapa unit peralatan, seperti seperangkat mesin menjahit, mesin dong peng, peti es (ice boxs), tape, head phone dan alat-alat salon kecantikan untuk para penyandang cacat di Tarakan.
"Bantuan ini untuk para penyandang cacat pada 18 kelompok dan dibagi sesuai keterampilan mereka," ungkap Kasi Rehabilitasi Sosial Dra Hj Jurwarni. Masih menurut wanita berjilbab ini, pelatihan untuk para penyandang cacat ini sudah sering dilakukan oleh Kantor Sosial.
"Seperti baru-baru hasil kerajinan para penyandang cacat kita pamerkan di Pameran Expo di GOR, ternyata asilnya lumayan bagus. Mungkin bisa dibilang lebih bagus dan lebih teliti mereka," ujarnya bangga.(*)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar